Saturday, September 21, 2013

Encounter!

Selamat malam!
Huah! Bosen banget! Enaknya bikin cerita apa, ya? Oke, sip! Ide yang pertama lewat di kepala akan aku rubah menjadi cerita! Simsalabim!

**

"Huachi!"

Tiana menggosok hidungnya dengan punggung tangan. Matanya kembali terfokus pada pintu masuk kafe. Kemudian saat ia melirik jam di pergelangan tangannya, pandangannya berubah kesal. Mau berapa lama lagi ia membuatku menunggu?! batinnya.

Tadi sore Toma menghubunginya, berkata bahwa ia tidak bisa menjemput Tiana keluar malam ini. Tapi ia akan mengusahakan agar dapat bertemu seperti biasa. Karena gadis itu tidak mau tinggal di rumah--ini malam minggu. Siapa yang tahu apa yang akan sepupu-sepupunya lakukan kalau dia mendekam di rumah tanpa pengawasan--ia setuju untuk bertemu di kafe langganan mereka. Toma berjanji urusannya akan selesai sebelum waktu janjian, tapi sepertinya tidak begitu. Buktinya, sudah hampir satu jam Tiana menunggu dan Toma sama sekali tak menghubunginya.

Gadis itu menempelkan tangannya pada cangkir kopi yang baru saja ia pesan--untuk kedua kalinya--mengirimkan kehangatan cangkir itu pada tangannya yang dingin. Kafe yang penuh membuatnya tak memiliki pilihan selain duduk tepat di bawah AC yang menyemburkan udara dingin langsung ke punggungnya. Tiana menggosok lengannya perlahan dengan telapak, berusaha mengusir dingin. "Hhhh.... Dingiiin...."

Sejurus kemudian, sebuah jaket hitam tersampir di bahunya. Kaget karena hawa dingin berhenti menyemburnya, Tiana berbalik. "Toma! Kenapa lama seka... Lho?"

Tiana berkedip bingung. Tadinya ia mengira Tomalah yang memberikan jaket itu. Kata-katanya kembali tertelan begitu melihat bukan Toma yang berdiri di sana, melainkan orang yang tidak dikenalnya. Orang itu melangkah ke sampingnya. "Masih kedinginan?" tanya orang itu.

Warna matanya berbeda, batin Tiana. Gadis itu menggeleng. "Te-terima kasih. Maaf, kamu...."

"Dari tadi aku melihatmu. Duduk sendirian lama sekali, sampai kedinginan begini. Kenapa tidak pulang saja?"

"Ah, itu... Saya sedang menunggu..."

"Pindah ke tempatku saja," potongnya. "Ikut denganku. Di sana tidak terlalu dingin."

"Ta-tapi...."

Orang itu menarik Tiana, tidak mempedulikan kata-kata gadis itu. Setelahnya, ia mendudukkan Tiana di kursi dekat kaca kafe. Dia sendiri duduk di hadapan gadis itu. "Bagaimana? Tidak dingin lagi, kan?"

"Saya berterima kasih. Tapi--"

"Tidak perlu berterima kasih. Ini kopimu." Orang itu menyodorkan cangkir kopi Tiana. Gadis itu bahkan sudah melupakan keberadaan minumannya. "Aku Ranmaru. Sudah seenaknya memaksamu pindah, aku minta maaf. Tapi ini lebih baik daripada kau membeku di sana."

"Sa-saya Tiana. Maaf sudah merepotkan." Gadis itu menunduk kecil. "Tidak bermaksud kurang ajar, tapi saya sedang menunggu seseorang. Dia..."

"Jangan bicara formal begitu. Biasa saja. Dan lagi, kau dan orang itu bisa pindah kalau dia sudah datang. Kau menunggulah di sini."

Ranmaru menyeruput minumannya perlahan, lalu memperhatikan Tiana. "Tidak menghubunginya?"

"Eh?"

"Orang yang kau tunggu itu. Siapa tahu dia tidak bisa datang." Ranmaru mendengus. Tiana menyambar ponsel di sakunya. "Benar.... Coba aku hubungi dulu."

"Tidak dijawab...," katanya setelah beberapa saat. Kekecewaan kentara terlihat di wajahnya. Tiana merapatkan jaket di bahunya. "Hhh..."

Tiba-tiba tangan Ranmaru sudah menempel di pipinya. "Dingin... Kau baik-baik saja?"

Wajah Tiana memanas. Ia cepat-cepat menarik diri sambil menyembunyikan rona merah di pipinya. "A-aku tidak apa-apa!"

"Maaf. Tanganku bergerak sendiri..."

"Ti-tidak masalah...."

Tiana melirik jam tangannya. Sudah lewat satu jam dari waktu yang dijanjikan. Ponselnya juga tidak dijawab. Toma lama sekali! Dia kemana?

"Kalau sedang tidak sibuk, bisa menemaniku?"

Tiana mengangkat wajah dengan mata melebar. "Jangan salah paham. Aku hanya butuh teman bicara. Kalau kau keberatan--"

"Sa-sambil menunggu... kurasa tidak masalah. Sebagai ucapan terima kasih," sahutnya pelan. Sebuah senyum tipis tersungging di wajah Ranmaru. "Thanks."

**

Toma mempercepat larinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam saat ia berhasil mencapai tempat yang ia tuju. Itu artinya, ia sudah membuat Tiana menunggu sangat lama. Pemuda itu bahkan tidak akan marah seandainya ia tidak menemukan Tiana di sana. Pasti dia sudah pulang, pikirnya. Namun Toma tetap melangkah masuk, ingin memastikan apakah kecurigaannya terbukti benar. Matanya mulai menelusuri kafe.

Senyum Toma merekah saat menemukan Tiana masih di sini, yang segera memudar begitu melihat ada pemuda yang duduk di hadapannya. Toma melihat Tiana yang bertopang dagu, memandang pemuda itu sambil sesekali tersenyum. Dengan emosi yang memuncak, Toma berderap mendekati mereka dan berhenti tepat di belakang pemuda itu. Tiana yang menyadari kedatangan Toma terkesiap kaget. Pemuda itu berbalik begitu melihat ekspresi kaget di wajah Tiana. "To-Toma..."

Pemuda itu menatap Toma kesal. "Jadi ini orang yang kau tunggu? Benar-benar.... Dia pikir sudah berapa lama--"

Toma menarik Ranmaru berdiri. Ia mendekatkan wajahnya. "Kau...," desisnya.

"Toma... Hentikan... Jangan membuat masalah," ujar Tiana cepat. Ia melirik pelayan yang mendekati mereka. "Toma, kumohon... Aku bisa menjelaskannya. Lepaskan dia, ya? Kumohon...."

Toma melepaskan pegangannya dan menghempaskan tubuh di kursi di samping Tiana. Pelayan tadi--yang merasa ancaman sudah berlalu--kembali ke meja pemesanan. Ranmaru merapikan bagian depan kausnya sambil memandang Toma kesal. "Ck, apa masalahmu?"

"Itu kalimatku! Kenapa kau dengan pacarku?!"

"Aku menemaninya menunggumu. Hah! Kau kira aku bisa membiarkannya menunggu selama itu sendirian?"

"Terima kasih, tapi kau sudah tidak diperlukan. Aku sudah di sini."

"Toma!" Tiana memandang Toma marah. Cowok itu tidak menggubrisnya. Matanya masih terpaku pada Ranmaru. Dipandangi seperti itu, Ranmaru mulai tidak nyaman. Ia bangkit dari kursinya. "Aku pergi dulu."

"Memang harusnya begitu," sahut Toma.

Tiana teringat jaket yang dikenakannya. "Ranmaru, jaketmu..."

"Simpan saja. Kau masih memerlukannya." Ia tersenyum pada Tiana, lalu berlalu. Setelah Ranmaru menghilang dari pandangan, Toma melirik Tiana. "Kenapa dia bisa bersamamu?"

Tiana menghela napas kesal. "Jangan menuduh begitu, Toma..."

"Aku tidak menuduh," bantahnya.

"Nada bicaramu itu.... Hah, sudahlah.... Tadinya juga aku menunggu sendirian. Tapi tempatku tadi dingin sekali. Lalu dia tiba-tiba datang menawarkan ikut duduk dengannya. Aku setuju hanya karena sudah tidak tahan berlama-lama di situ," jelas Tiana.

Toma tidak menjawab. Ia masih terlihat tidak senang. "Toma, sejak kapan kamu tidak percaya padaku? Kamu mulai meragukanku?" Nada sedih terdengar dalam suaranya.

Pemuda itu menoleh cepat. "Tidak, aku tidak meragukanmu. Tidak sedetik pun!"

"Lalu kenapa? Toma pikir aku mau meni--"

"Jangan diteruskan.... Aku minta maaf.... Harusnya aku tidak berkata begitu. Aku percaya padamu...."

Senyum merekah di wajah Tiana. "Terima kasih.... Ya sudah! Yang tadi jangan dijadikan masalah besar. Toma, mau makan apa?"

Toma tersenyum. "Yang biasanya saja? Bagaimana menurutmu?"

"Boleh... Maaf! Kami mau pesan!"

Sebentar saja mereka sudah tenggelam dalam pembicaraan, sama sekali melupakan yang barusan terjadi. Tiana merapatkan jaket di bahunya. Dia masih harus mengembalikan ini pada pemiliknya. Tapi sekarang ia harus melupakan itu. Tomalah yang harus dipikirkannya sekarang.

**

[THE END]

Oyasumi!

Monday, September 2, 2013

Story - 'Rapuh'

Selamat sore! Senang sekali bisa kembali menyuguhkan postingan baru untuk para pembaca ^^

Yak, karena cerita kali ini lumayan panjang, aku langsung saja ya? Selamat menikmati 'Rapuh'....

**


Dulu, aku punya sebuah kisah yang dapat kuceritakan. Sebuah kisah yang begitu indah hingga semua orang yang membacanya akan menjerit di dalam hati karena iri. Potongan demi potongan keindahan yang harusnya dapat kusatukan menjadi lembaran sempurna. Hal-hal yang begitu lembut mengalir dalam kehidupan nyataku, merekalah inspirasiku. Dulu.

Wanita, tak ubahnya dengan makhluk-makhluk lain, hidup untuk mencari kesempurnaan. Mereka ingin kecantikan, tubuh yang indah, barang-barang bermerek yang mahal, serta pria sempurna sebagai pendampingnya. Tiga hal pertama dapat dengan mudah didapatkan. Namun tidak begitu dengan yang terakhir. Pria sempurna.... Mereka tidak ada.

Hanya saja, sayangnya, aku mengenal satu pria ini.... Bagiku ia...nyaris sempurna. Wajah tampan, tinggi dan atletis, pintar, kaya, dan segala hal yang mugnkin wanita inginkan ada padanya. ‘Casanova’kah panggilannya? Ya, mungkin begitu. Aku hanya lebih suka dengan julukan ‘Pheromone Machine’. Ah, mungkin kalian harus tahu bahwa pria yang aku deskripsikan barusan adalah abangku. Terima kasih banyak.

Yang kupelajari dari abangku adalah...pria sepertinya yang dikelilingi oleh banyak wanita tidak mudah membuat komitmen. Mereka lebih suka bebas daripada terkungkung oleh satu wanita. Kecuali, jika wanita yang berani mengambil perhatian si casanova ini istimewa. Wanita yang selalu membuat casanova seperti abangku kebingungan dan penasaran dengan satu pertanyaan tanpa jawaban di kepalanya, “Kenapa ini tidak berpengaruh padanya?” lalu memutuskan untuk mendekati wanita istimewa ini hingga rasa penasaran mereka terjawab.

Kalian tahu hal apalagi yang kupelajari darinya? Bahwa casanova yang sudah berkomitmen dengan orang yang tepat akan berubah menjadi pria overprotektif tinggat tinggi. Mereka menjadi begitu sensitif dengan kepunyaannya yang sangat berharga. Mungkin sedikit goresan saja akan memicu emosinya.

Aku sangat berbahagia untuk mereka, abangku dan tunangannya yang cantik. Dalam waktu dekat pernikahan akan dilaksanakan dan mereka akan memiliki kehidupan seperti di dalam dongeng; bahagia untuk selamanya. Bukankah itu bagus?

Seminggu sebelum pernikahan, mereka merencanakan sebuah pesta di villa pribadi milik abangku untuk teman-temannya. Sebuah acara makan malam bersama sambil melihat lautan bintang di langit malam dari atas bukit. Bukankah itu menyenangkan? Aku selalu menyukai bintang!

Rencana telah disusun, undangan telah disebar, dan pesta dimulai!

Mereka semua bersenang-senang. Pesta begitu ramai dan meriah. Seluruh teman abangku dan tunangannya berdiri di pekarangan villa sambil memandangi bintang. Sayang aku jatuh tertidur terlalu cepat sehingga abangku harus rela meninggalkan tunangannya yang cantik sementara ia mengantarku ke dalam kamar.

Hanya beberapa puluh menit saja aku tertidur karena keributan terpecah di luar sana. Yang menyadarkanku adalah teriakan panik abangku. Ia meneriakkan nama tunangannya terus-menerus. Penasaran apa yang terjadi, aku kembali bergabung dalam pesta yang sudah nyaris bubar ini dengan nyawa yang belum terkumpul seluruhnya.

Semua orang berlalu-lalang dalam kepanikan, meneriakkan hal yang sama dengan abangku. Kudekati pria yang sedang panik itu, menggenggam ujung bajunya erat. Ia menoleh, lalu ada seseorang yang berteriak. Belum sempat otakku memprosesnya, abangku telah melarikan kakinya menuju sumber suara.

Tiga puluh menit kemudian, sebuah ambulans tiba di villa. Masih kebingungan dengan apa yang terjadi saat aku melihat abangku di kejauhan. Ia membawa seseorang di dalam lengannya, berlumuran noda kemerahan yang begitu kentara di atas kemeja putihnya. Seseorang yang kuyakin merupakan sumber dari darah itu. Yang harus kuakui mengejutkan karena itu tunangan abangku....

Tidak seorangpun yang mengetahui apa yang terjadi pada si wanita cantik di malam tragedi itu. Mereka hanya menyadari satu dari bintang utama menghilang dari jantung pesta dan mulai melakukan pencarian. Selebihnya.... masih penuh dengan tanda tanya.

Abangku yang malang hanya mampu mengulangi kalimat itu secara konstan dengan tangis bisu, “maafkan aku....” Pasti sangat sulit diterima akal sehat, bukan? Wanita yang dalam beberapa hari ini akan menjadi pendamping hidupnya mengalami kecelakaan yang merengut pengelihatan dan pendengarannya sudah tentu bukan hal indah yang ingin dicerna.

Wanita cantik itu tetap bertahan dalam kondisi koma selama tiga hari, sebelum akhirnya ia tertidur untuk selamanya dalam kedamaian. Hari itu, untuk pertama kalinya aku melihat abangku yang begitu rapuh, hancur.... Tak setetes pun air mata keluar dari sepasang mata sendu itu. Bukan berarti ia tak berduka, hanya saja sudah terlalu lelah bersedih hingga memutuskan untuk bungkam. Semua kesedihan itu sudah tertelan oleh hampa.

“Bang Ryan, ini sarapanmu....”

Abangku hanya menoleh dan tersenyum sekilas dari atas tempat tidurnya. Aku ingin menangis, sungguh. Ia samasekali tak terlihat sehat. Wajahnya yang pucat dan tirus, matanya terlihat lelah dan tak lagi bernyawa. Padahal sudah setahun berlalu sejak kepergian tunangannya yang tercinta, tapi abangku masih belum berhasil bangkit dari kesedihannya yang berlarut-larut.

“Mau aku suapi? Nasi goreng kesukaan Bang Ryan dengan resep rahasiaku! Nah, buka mulutmu, ya....”

Ia menghalangi sendok itu mencapai mulutnya lalu menggeleng lemah padaku. Dengan berat hati kuletakkan kembali sendok itu ke atas piring dan memindahkannya ke meja. Tanpa mampu menahan perasaan ini lebih lama, aku memeluknya erat dan menangis. Air mata ini.... Kesedihan abangku yang tak mampu disuarakannya. Sudah terlalu lama ia mengunci emosi ini dan merusaknya, perlahan namun pasti. Aku... tidak sanggup melihat abangku yang dihancurkan oleh duka. Tidak....

“Bang Ryan, kumohon jangan terus begini.... Aku merindukan Bang Ryan yang dulu. Bang Ryan yang selalu memasang senyum penakluknya tanpa ragu. Kemana abang yang dulu? Kumohon, sadarlah!”

“Dia sudah tiada, adikku tersayang....” Ia membalas pelukanku, berusaha mengapitku sekuat tenaga di dalam lengannya yang kurus. Tetap berusaha menahan duka itu di dalam dirinya.

Apakah kalian ingin mengetahui hal apa lagi yang kupelajari dari abangku? Bahwa casanova tak ubahnya patung kaca yang mudah hancur saat miliknya yang berharga direnggut darinya. Sekeji apapun balas dendam yang mereka mainkan, pada akhirnya mereka akan tetap hancur. Karena hati casanova tak terlalu jauh berbeda dengan hati wanita....

Mereka... Rapuh....

**

[THE END]