Sunday, November 18, 2012

Being a Writer.....

Good evening!! Long weekend has finally reached the end! Here it is, one short story to close our beloved long weekend! Please enjoy ;)

**

"Dari ribuan kesenangan dan kebanggaanku menjadi seorang penulis, hanya satu hal yang membuatku menyesal: jiwaku begitu mudah tersentuh, terlalu peka. Hati ini terlalu mudah hancur, terlalu rapuh untuk menampung kesedihan dan kecewa yang teramat sangat. Mengapa seorang penulis harus sepeka ini?

Benar, berkat itulah tulisanku seolah memiliki jiwa. Benar, berkat itulah tulisanku mampu menggugah hati pembaca. Benar, berkat itulah kini semua orang mengenalku sebagai penulis. Benar, berkat itulah semua orang menyadari keberadaanku. Namun, apakah mereka memahami apa yang aku rasakan? Tahukah mereka apa yang ada di balik kisah-kisah yang kutorehkan, yang mampu merasuki jiwa mereka? Tahukah mereka jika terkadang aku melarikan jemariku sambil berurai air mata? Sadarkah mereka betapa jarangnya aku mengabadikan kisah yang berakhir bahagia?

Buah pikiranku semua datang dari apa yang kurasakan. Saat seorang bocah yang menangis sendu karena kehilangan ibunya di usia semuda itu, mataku lekat memandangnya dan kesedihan itu terserap masuk dalam jiwaku. Saat seorang wanita berdiri di pinggir jembatan sambil menatap laut yang berada jauh di bawahnya dengan tatapan hampa, kurasakan kesedihan dan keputus asaannya mengalir ke dalam diriku. Usaha apapun yang kulakukan untuk menghalangi perasaan itu masuk ke dalam hatiku tak pernah berhasil.

Aku selalu merasa takut. Bagaimana jika tak seorang pun yang mampu mengerti aku? Bagaimana jika kelak yang berada di sekitarku pun akan menjauh? Gadis cengeng dan perasa sepertiku pasti membuat mereka kesal. Begitulah pikirku....

Karena itu saat ini aku sangat bersyukur memiliki dirinya di sampingku. Ya, belahan jiwaku.

Pemuda itu, ia mengulurkan tangannya dan menawarkan kehangatannya untuk dibagikan padaku. Ia tak pernah mengeluhkan jemariku yang selalu gatal ingin membagikan kisah tentangnya pada dunia. Namun ia tak pernah alpa mengingatkanku jika aku melakukan hal yang salah dan menyinggungnya tanpa sengaja. Ia selalu mengerti, beginilah aku, seperti inilah aku menjalani hidupku. Jiwa ini layaknya kertas basah. Jika salah menyentuhnya, ia akan terluka. Aku selalu kagum dengan caranya merangkulku ke dalam dunianya. Dialah kini seluruh jagat rayaku.

Semenjak dirinya hadir dalam lembaran hidupku, kisah yang berakhir dengan tangis sudah jarang tertuang. Aku selalu berusaha membagikan kebahagiaan yang kurasakan saat bersama dirinya kepada semua orang. Begitulah seharusnya. Pendam kesedihanmu pada orang yang kau cintai, bagilah kebahagiaanmu bersama orang yang kau cintai pada dunia...."

[THE END]

No comments:

Post a Comment