Monday, September 2, 2013

Story - 'Rapuh'

Selamat sore! Senang sekali bisa kembali menyuguhkan postingan baru untuk para pembaca ^^

Yak, karena cerita kali ini lumayan panjang, aku langsung saja ya? Selamat menikmati 'Rapuh'....

**


Dulu, aku punya sebuah kisah yang dapat kuceritakan. Sebuah kisah yang begitu indah hingga semua orang yang membacanya akan menjerit di dalam hati karena iri. Potongan demi potongan keindahan yang harusnya dapat kusatukan menjadi lembaran sempurna. Hal-hal yang begitu lembut mengalir dalam kehidupan nyataku, merekalah inspirasiku. Dulu.

Wanita, tak ubahnya dengan makhluk-makhluk lain, hidup untuk mencari kesempurnaan. Mereka ingin kecantikan, tubuh yang indah, barang-barang bermerek yang mahal, serta pria sempurna sebagai pendampingnya. Tiga hal pertama dapat dengan mudah didapatkan. Namun tidak begitu dengan yang terakhir. Pria sempurna.... Mereka tidak ada.

Hanya saja, sayangnya, aku mengenal satu pria ini.... Bagiku ia...nyaris sempurna. Wajah tampan, tinggi dan atletis, pintar, kaya, dan segala hal yang mugnkin wanita inginkan ada padanya. ‘Casanova’kah panggilannya? Ya, mungkin begitu. Aku hanya lebih suka dengan julukan ‘Pheromone Machine’. Ah, mungkin kalian harus tahu bahwa pria yang aku deskripsikan barusan adalah abangku. Terima kasih banyak.

Yang kupelajari dari abangku adalah...pria sepertinya yang dikelilingi oleh banyak wanita tidak mudah membuat komitmen. Mereka lebih suka bebas daripada terkungkung oleh satu wanita. Kecuali, jika wanita yang berani mengambil perhatian si casanova ini istimewa. Wanita yang selalu membuat casanova seperti abangku kebingungan dan penasaran dengan satu pertanyaan tanpa jawaban di kepalanya, “Kenapa ini tidak berpengaruh padanya?” lalu memutuskan untuk mendekati wanita istimewa ini hingga rasa penasaran mereka terjawab.

Kalian tahu hal apalagi yang kupelajari darinya? Bahwa casanova yang sudah berkomitmen dengan orang yang tepat akan berubah menjadi pria overprotektif tinggat tinggi. Mereka menjadi begitu sensitif dengan kepunyaannya yang sangat berharga. Mungkin sedikit goresan saja akan memicu emosinya.

Aku sangat berbahagia untuk mereka, abangku dan tunangannya yang cantik. Dalam waktu dekat pernikahan akan dilaksanakan dan mereka akan memiliki kehidupan seperti di dalam dongeng; bahagia untuk selamanya. Bukankah itu bagus?

Seminggu sebelum pernikahan, mereka merencanakan sebuah pesta di villa pribadi milik abangku untuk teman-temannya. Sebuah acara makan malam bersama sambil melihat lautan bintang di langit malam dari atas bukit. Bukankah itu menyenangkan? Aku selalu menyukai bintang!

Rencana telah disusun, undangan telah disebar, dan pesta dimulai!

Mereka semua bersenang-senang. Pesta begitu ramai dan meriah. Seluruh teman abangku dan tunangannya berdiri di pekarangan villa sambil memandangi bintang. Sayang aku jatuh tertidur terlalu cepat sehingga abangku harus rela meninggalkan tunangannya yang cantik sementara ia mengantarku ke dalam kamar.

Hanya beberapa puluh menit saja aku tertidur karena keributan terpecah di luar sana. Yang menyadarkanku adalah teriakan panik abangku. Ia meneriakkan nama tunangannya terus-menerus. Penasaran apa yang terjadi, aku kembali bergabung dalam pesta yang sudah nyaris bubar ini dengan nyawa yang belum terkumpul seluruhnya.

Semua orang berlalu-lalang dalam kepanikan, meneriakkan hal yang sama dengan abangku. Kudekati pria yang sedang panik itu, menggenggam ujung bajunya erat. Ia menoleh, lalu ada seseorang yang berteriak. Belum sempat otakku memprosesnya, abangku telah melarikan kakinya menuju sumber suara.

Tiga puluh menit kemudian, sebuah ambulans tiba di villa. Masih kebingungan dengan apa yang terjadi saat aku melihat abangku di kejauhan. Ia membawa seseorang di dalam lengannya, berlumuran noda kemerahan yang begitu kentara di atas kemeja putihnya. Seseorang yang kuyakin merupakan sumber dari darah itu. Yang harus kuakui mengejutkan karena itu tunangan abangku....

Tidak seorangpun yang mengetahui apa yang terjadi pada si wanita cantik di malam tragedi itu. Mereka hanya menyadari satu dari bintang utama menghilang dari jantung pesta dan mulai melakukan pencarian. Selebihnya.... masih penuh dengan tanda tanya.

Abangku yang malang hanya mampu mengulangi kalimat itu secara konstan dengan tangis bisu, “maafkan aku....” Pasti sangat sulit diterima akal sehat, bukan? Wanita yang dalam beberapa hari ini akan menjadi pendamping hidupnya mengalami kecelakaan yang merengut pengelihatan dan pendengarannya sudah tentu bukan hal indah yang ingin dicerna.

Wanita cantik itu tetap bertahan dalam kondisi koma selama tiga hari, sebelum akhirnya ia tertidur untuk selamanya dalam kedamaian. Hari itu, untuk pertama kalinya aku melihat abangku yang begitu rapuh, hancur.... Tak setetes pun air mata keluar dari sepasang mata sendu itu. Bukan berarti ia tak berduka, hanya saja sudah terlalu lelah bersedih hingga memutuskan untuk bungkam. Semua kesedihan itu sudah tertelan oleh hampa.

“Bang Ryan, ini sarapanmu....”

Abangku hanya menoleh dan tersenyum sekilas dari atas tempat tidurnya. Aku ingin menangis, sungguh. Ia samasekali tak terlihat sehat. Wajahnya yang pucat dan tirus, matanya terlihat lelah dan tak lagi bernyawa. Padahal sudah setahun berlalu sejak kepergian tunangannya yang tercinta, tapi abangku masih belum berhasil bangkit dari kesedihannya yang berlarut-larut.

“Mau aku suapi? Nasi goreng kesukaan Bang Ryan dengan resep rahasiaku! Nah, buka mulutmu, ya....”

Ia menghalangi sendok itu mencapai mulutnya lalu menggeleng lemah padaku. Dengan berat hati kuletakkan kembali sendok itu ke atas piring dan memindahkannya ke meja. Tanpa mampu menahan perasaan ini lebih lama, aku memeluknya erat dan menangis. Air mata ini.... Kesedihan abangku yang tak mampu disuarakannya. Sudah terlalu lama ia mengunci emosi ini dan merusaknya, perlahan namun pasti. Aku... tidak sanggup melihat abangku yang dihancurkan oleh duka. Tidak....

“Bang Ryan, kumohon jangan terus begini.... Aku merindukan Bang Ryan yang dulu. Bang Ryan yang selalu memasang senyum penakluknya tanpa ragu. Kemana abang yang dulu? Kumohon, sadarlah!”

“Dia sudah tiada, adikku tersayang....” Ia membalas pelukanku, berusaha mengapitku sekuat tenaga di dalam lengannya yang kurus. Tetap berusaha menahan duka itu di dalam dirinya.

Apakah kalian ingin mengetahui hal apa lagi yang kupelajari dari abangku? Bahwa casanova tak ubahnya patung kaca yang mudah hancur saat miliknya yang berharga direnggut darinya. Sekeji apapun balas dendam yang mereka mainkan, pada akhirnya mereka akan tetap hancur. Karena hati casanova tak terlalu jauh berbeda dengan hati wanita....

Mereka... Rapuh....

**

[THE END]

No comments:

Post a Comment