Sunday, November 4, 2012

愛。Love. Amor. Cinta.

Sepertinya bahasan tentang cinta itu tak ada habis-habisnya. Kalau ada mata kuliah tentang cinta, sudah pasti banyak yang mengulang di semester berikutnya. Haha, siapapun yang bilang cinta itu mudah dipahami pasti tidak mengerti arti cinta yang sebenarnya.

Bukannya aku mau sok tahu dan menggurui kalian soal cinta. Aku hanya kasihan pada kalian. Kulihat banyak sekali orang yang stres gara-gara jatuh cinta, meski nggak sedikit juga yang berbunga-bunga karenanya. Tapi tetap saja, buatku cinta itu bukan hal yang harus kucari. Tidak penting.

Abangku--yang menunjuk dirinya sendiri sebagai ahli cinta--sering memberiku wejangan soal cinta. Katanya, cinta memang nggak dicari. Cinta itu memilih. Dia akan datang jika ia merasa orang itu bisa menampungnya. Dan menurutnya, aku telah memutuskan awal yang tepat untuk perjalanan cintaku. Hah, percaya saja semua kata-katanya dan aku akan tersesat.

Abang juga berkata bahwa cinta itu tidak menyuruh kita memilih antara dua pilihan atau lebih. Cinta selalu memberikan solusi terbaik tanpa mengorbankan kebahagiaan. Cinta itu mirip bahan-bahan kimia di laboratorium. Salah sedikit saja takaran dan campurannya, maka ia akan meledak. Aku tidak percaya padanya. Bisa-bisanya seorang jomblo kayak dia mengajari soal cinta padaku? Apanya yang ahli cinta?

Bagiku, hal bernama 'cinta' sudah musnah dari dunia ini. Aku tidak mengerti dengan mereka yang selalu sibuk mencari cinta, cinta, dan cinta! Kalian harus mengerti sakitnya sebelum berani mengucapkan kata itu. That word, that cursed word I hope wouldn't hear for the second time.

Cinta itu sakit. Cinta itu hanya berisi kesedihan. Cinta itu membuat lubang menganga selebar-lebarnya di hatimu saat ia pergi. Sebesar apa cinta yang pernah kau buat, sebesar itu pulalah lukamu. Abangku selalu menceritakan cinta dari sudut pandangnya yang selalu positif terhadap cinta. Dia tidak pernah memberitahuku bahwa cinta itu gelap dan menyakitkan. Tidak ada yang memperingatkanku bahwa cinta bisa menarik jiwamu pergi seolah mati.

Pernah sekali, entah apa yang merasukiku hingga aku melompat kedalam lubang mengerikan itu. Awalnya aku sama seperti kalian, berbunga-bunga dan bahagia dihampiri oleh cinta. Setiap hariku terasa begitu berbeda, begitu berwarna. Lelaki itu begitu mempesonaku, ia selalu membuatku layaknya ratu penguasa hatinya. Ia begitu baik, perhatian, dan sangat mempercayaiku. Aku pun memberikan hal yang sama padanya, malah mungkin lebih.

Aku sangat sangat mencintainya, hingga aku tak tahu lagi bagaimana cara menyampaikannya karena terlalu sering. Namun dia selalu saja berhasil membuatku senang dengan cara barunya sendiri. Hanya dengan sebuah senyum saja, duniaku akan bersinar lebih terang.

Saat kukira inilah perjalanan cintaku, dia pergi meninggalkanku. Karena mengatas namakan cinta, aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi selamanya. SELAMANYA! Semua karena cinta, cinta, cinta! Memuakkan! Kenapa aku harus jatuh cinta?!

Gara-gara cinta, dia ada bersamaku. Gara-gara cinta, dia merasa harus melindungiku. Gara-gara cinta, dia menggantikan tempatku di tengah jalan dan membiarkan dirinya dihantam oleh sedan hitam itu. Gara-gara cinta, aku kehilangan satu-satunya orang yang mampu mengubahku! Sekarang aku bertanya, apakah cinta mau bertanggung jawab atas semua penderitaan yang ditinggalkannya saat cinta tak lagi bersemayam di hatiku? TIDAK!

Mereka berkata aku terlalu dangkal menilai cinta. Mudah bagi mereka berkata seperti itu. Bukan mereka yang terluka. Bukan mereka yang merasakannya! Mereka tidak berhak menasehatiku tentang hal yang belum pernah mereka alami. Mereka mungkin akan sependapat denganku kalau mereka tahu rasanya.

Aku tak pernah membuka hatiku lagi pada cinta sejak hari itu. Jika cinta benar akan memilih, aku tahu dia akan datang suatu hari nanti. Meski ia harus berusaha sekuat tenaga menghancurkan benteng yang kubangun di sekitar hatiku. Jika cinta benar memilih.... Aku...

[THE END]

No comments:

Post a Comment